Aeroponik

Aeroponik : Pengertian, Contoh, Kelebihan dan Kekurangannya

Munculnya banyak cara baru untuk budidaya tanaman. Mulai dari hidroponik, akuaponik, hingga aeroponik.

Hal tersebut merupakan tanda bahwa teknologi pertanian di Indonesia sudah berkembang dengan sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Metode atau sistem pertanian yang akan dibahas kali ini adalah aeroponik. Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya “apa itu aeroponik?” sebab teknologi yang satu ini masih belum terlalu familier untuk masyarakat luas dan juga di dunia pertanian.

Pengertian Aeroponik

Supaya Anda paham dengan apa itu aeroponik, sebaiknya Anda pahami dulu pengertiannya.

Istilah aeroponik berasal dari dua kata, yaitu aeros yang memiliki arti udara dan ponus berarti daya. Kedua istilah ini merupakan bahasa Yunani.

Mengacu pada kedua istilah di atas, aeroponik memiliki arti memberdayakan sesuatu dengan memanfaatkan udara.

Pengertian lengkap dari aeroponik adalah sistem budi daya tanaman yang tidak menggunakan tanah sebagai media tanam, melainkan menggunakan media tanam berupa udara.

Apakah tanaman bisa hidup di udara? Tentu saja.

Namun Anda jangan membayangkan bahwa metode ini membiarkan tanaman berada di lingkungan terbuka dengan akar bergelantungan. Terdapat metode dengan peralatan khusus pula untuk bisa membuat tanaman tumbuh dengan baik.

Tanaman diletakkan pada sebuah wadah tertentu. Khususnya bagian akar dan pangkal batang yang berada di dalam wadah tersebut. Sedangkan bagian tanaman lain seperti batang bagian atas dan juga daun dibiarkan berada di ruang terbuka.

Wadah ini sangat dijaga kelembapannya. Dalam waktu tertentu juga, akan tanaman akan disemprot dengan air serta nutrisi yang bentuknya sudah diubah menjadi seperti uap atau kabut. Uap ini mengenai akar dan diserap oleh tanaman sehingga bisa tumbuh dengan baik.

Diperlukan pengetahuan yang mumpuni untuk bisa mengembangbiakkan tanaman dengan cara ini. Selain pengetahuan, Anda juga perlu menyiapkan beberapa peralatan atau komponen antara lain:

  • Saluran irigasi sprinkler
  • Pompa
  • Nozzle sprinkler
  • Pipa PVC
  • Rockwool
  • Tray untuk pembibitan
  • Styrofoam
  • Larutan air dan nutrisi
  • Benih tanaman

Apabila semua peralatan dan bahan sudah siap, Anda bisa memulai proses penyemaian bibit tanaman.

Ikuti langkah-langkah berikut ini:

  1. Siapkan benih tanaman, rockwool, dan tray pembibitan.
  2. Rendam benih tanaman dengan air biasa selama semalam guna mempercepat proses tumbuhnya akar.
  3. Tebarkan biji pada rockwool dan tunggu hingga mulai tumbuh akar, batang, dan daun. Prosesnya bisa berlangsung cepat atau lambat tergantung dari jenis tumbuhan yang Anda tanam.
  4. Jika sudah muncul dua buah daun sempurna, Anda bisa mulai memindahkan bibit tanaman ini ke media aeroponik.

Keempat langkah penyemaian bibit di atas sudah selesai dilakukan, artinya Anda bisa mulai menyiapkan media aeroponik dan memindahkan tanaman.

Perhatikan panduan di bawah supaya tidak salah langkah.

  1. Siapkan wadah berupa kotak styrofoam yang sudah dilengkapi dengan tutup. Anda bisa memanfaatkan kotak styrofoam bekas ikan dan lain sebagainya. Jangan lupa untuk memberi lubang pada tutupnya sebagai tempat tumbuh tanaman.
  2. Siapkan pompa air di dasar wadah serta pasang alat untuk membuat uap (sprinkler). Kedua alat ini saling terhubung. Jangan lupa juga untuk memasang saluran irigasi atau pendistribusi uap menggunakan pipa PVC.
  3. Hubungkan pompa dengan alat timer dan sumber listrik. Atur timer supaya penyemprotan dilakukan 15 menit sekali. Jeda waktu merupakan yang paling ideal untuk aeroponik.
  4. Jangan lupa untuk mengisi wadah styrofoam dengan larutan air serta zat hara.

Sebaiknya tanaman yang dibudidayakan dengan aeroponik memiliki usia panen yang tidak terlalu lama. Tanaman seperti kangkung dan selada menjadi contoh yang ideal karena tanaman ini dapat dipanen dalam waktu satu bulan sejak penanaman pertama kali.

Kelebihan dan Kekurangan Aeroponik

Apakah Anda sudah paham dengan apa itu aeroponik beserta langkah-langkahnya? Jika sudah, Anda bisa beranjak melanjutkan pembahasan. Bicara pertanian, setiap metode yang digunakan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan aeroponik.

Kelebihan Aeroponik

Apa itu aeroponik? Sistem pertanian yang menggunakan media tanam berupa udara, dan beberapa kelebihannya sebagai berikut :

Hemat air

Kebutuhan air tentu lebih sedikit karena diuapkan terlebih dahulu kemudian disemprotkan ke tanaman. Hal ini jelas membuat Anda menghemat air. Tak seperti sistem hidroponik atau pun sistem konvensional.

Ketika musim kemarau tiba dan persediaan air menipis, Anda tak perlu khawatir karena aeroponik tak memerlukan banyak air. Anda tetap bisa bertani seperti biasanya.

Tak perlu mengolah lahan

Apakah Anda sadar bahwa sistem pertanian tradisional sangat menyita waktu? Bagaimana tidak, Anda membutuhkan banyak waktu untuk menyiapkan lahan, menggemburkan tanah, dan lain sebagainya.

Hal-hal seperti tak akan Anda jumpai di sistem pertanian aeroponik. Anda cukup menyiapkan bibit dan merakit media tanam.

Tahan hama dan gulma

Hama dan gulma menjadi musuh utama para petani. Hewan dan tanaman pengganggu ini lebih sering ditemui pada metode pertanian tradisional. Dengan menggunakan metode aeroponik, tanaman menggantung di udara. Kondisi ini tidak memberikan ruang kepada gulma untuk tumbuh.

Penelitian juga menunjukkan bahwa hama lebih sedikit ditemui pada sistem aeroponik. Jadi, Anda bisa sedikit lebih tenang.

Tidak mengenal musim

Beberapa jenis tanaman hanya tumbuh di musim tertentu. Metode aeroponik tidak mengenal musim tanam. Anda dapat menanam tumbuhan apa pun sepanjang tahun. Kondisi tanah dan udara di luar tak memengaruhi tanaman di aeroponik.

Lebih cepat panen

Pemberian nutrisi dan air langsung ke akar dapat mendukung pertumbuhan tanaman dengan lebih intensif. Hal ini membuat tanaman tumbuh dalam jangka waktu yang lebih cepat. Tak heran jika petani aeroponik bisa panen lebih cepat dibandingkan petani tradisional.

Kekurangan Aeroponik

Anda tentu sudah memahami apa itu aeroponik, sistem pertanian yang menggunakan udara.

Biaya cukup mahal

Metode ini sangat berbeda dengan cara tradisional. Anda membutuhkan peralatan seperti pompa, sprinkler, dan lain sebagainya. Harga beli semua komponen tersebut cukup tinggi.

Apalagi jika Anda ingin membangun banyak instalasi sekaligus, biaya yang diperlukan juga akan lebih besar.

Sulit mendapatkan komponen

Komponen untuk membangun sistem pertanian aeroponik selain berharga mahal juga sulit didapatkan. Terutama di wilayah pedesaan atau daerah yang jauh dari kota besar. Hal ini tentu saja menyulitkan masyarakat yang ingin mengembangkan sistem pertanian baru.

Solusi dari permasalahan ini adalah membeli secara online. Namun ada kendala lain yaitu ongkos kirim yang mahal. Apalagi untuk wilayah terluar atau terpencil.

Bergantung pada listrik

Harga beli peralatan cukup mahal, hal ini juga diperparah dengan ketergantungan peralatan terhadap listrik. Penyemprotan uap air dan nutrisi tak bisa dilakukan tanpa adanya listrik. Bayangkan jika listrik padam, tanaman pun bisa ikut mati. Hal ini jelas merugikan.

Contoh Tanaman Aeroponik

Sistem pertanian aeroponik bisa dipakai untuk menanam jenis tumbuhan apa pun.

Namun umumnya terdapat beberapa jenis tanaman yang bisa dibudidayakan dengan cara ini, antara lain:

  • Selada
  • Sawi
  • Tomat
  • Bawang merah
  • Bawang putih
  • Daun bawang
  • Seledri
  • Melon
  • Mentimun
  • Anggrek
  • Kaktus

Nah, sekian informasi mengenai aeroponik, semoga bermanfaat ulasan ini ya.

Leave a Comment