Bagaimana Petani Zaman Dulu Mengolah Tanah

Bagaimana Petani Zaman Dulu Mengolah Tanah?

Bagaimana petani zaman dulu mengolah tanah? Tentu saja ada perbedaan cara pengelolahan tanah para petani di zaman dulu dengan zaman modern seperti sekarang.

Kira-kira bagaimana petani zaman dulu mengolah tanah ya? Berikut akan kami rangkumkan selengkapnya untuk Anda.

Namun demikian perlu untuk Anda tahu terlebih dulu bahwa pengelohan tanah adalah suatu proses dimana tanah nanti akan digemburkan dan dilembekkan dengan cara dibajak menggunakan berbagai sumber tenaga, seperti tenaga manusia, hewan, dan traktor.

Melalui proses ini pula kerak tanah akan teraduk dengan sempurna sehingga udara dan cahaya matahari dapat menyentuh tanah lebih dalam lagi dan tentu saja juga dapat meningkatkan kesuburannya.

Cara Petani Zaman Dulu Mengolah Tanah

Petani di zaman dulu mengolah tanah dengan cara tradisional sebelum akhirnya ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang cukup pesat di zaman modern ini. Petani zaman dulu mengolah tanah dengan menggunakan berbagai macam alat-alat tradisional yang bekerja menggunakan tenaga manusia dan hewan.

Alat yang digunakan untuk mengolah kayu di zaman dulu terbuat dari kayu, kemudian seiring dengan berjalannya waktu alat tersebut dibuat dari besi tua sebagai bahan utamanya, lalu berlanjut lagi dibuat dari baja.

Cara petani zaman dulu mengolah tanah dengan menerapkan sistem tradisional ini biasanya diidentikan dengan menggunakan bajak singkal dan bajak garu.

Bajak singkal sendiri termasuk jenis bajak paling tua. Bajak singkal di Indonesia menjadi salah satu yang paling umum digunakan petani tradisional pada saat akan mengelolah tanahnya. Untuk menggunakan alat tersebut tentu saja juga dibutuhkan tenaga hewan, seperti kerbau atau sapi sebagai sumber daya penariknya.

Namun demikian, ternyata ada banyak sekali model bajak singkal yang bisa ditemukan. Perbedaan keberagaman bajak singkal biasanya terlihat pada bentuk mata bajak juga di beberapa bagian lainnya.

Mata bajak ini merupakan bagian dari bajak, fungsinya untuk mengelolah tanah. Lalu untuk bajak garu sendiri biasanya dilakukan setelah tanah selesai dibajak menggunakan bajak singkal.

Biasanya masih merupakan bongkahan tanah yang berukuran besar, makanya untuk menghancurkan dan meratakan permukaan tanah tersebut maka diperlukan dilakukannya pengelolahan tanah yang kedua. Alat dan mesin tani tradisional yang digunakan di zaman dulu adalah dengan melakukan pengelolahan tanah menggunakan alat sejenis garu.

Mengetahui Sistem Pengolahan Tanah Tradisional

Jika dilihat dari seberapa banyaknya residu tanaman yang diangkat dari lahan pertanian maka sistem pengelolahan tanah dibagi menjadi 3 jenis. Misalnya saja di Amerika Serikat, sistem pengolahan tanah konservasi menjadi salah satu yang paling banyak digunakan. Alasannya, karena lebih hemat waktu, energi, tenaga, dan biaya.

Cara mengolah tanah konservasi juga bertujuan untuk mencegah terjadinya pemadatan tanah. Tetapi jika semakin sedikit tanah yang dibalikkan, maka akan semakin sedikit pula cahaya matahari dan udara yang bisa menyentuh tanah bagian dalam. Sehingga yang demikian tersebut dapat menghambat penanaman di awal musim semi.

Berikut ini adalah beberapa sistem pengolahan tanah tradisional yang perlu diketahui.

  • Mengelolah tanah tereduksi. Sistem pengelolahan tanah yang pertama ini nanti akan meninggalkan sekitar 15 – 30 persen residu tanaman untuk tetap ada di lahan pertanian.
  • Mengelolah tanah intensif. Pengolahan tanah intensif nanti akan meninggalkan kurang lebih sekitar 15 persen residu tanaman agar tetap ada di lahan pertanian. Pengelolahan tanah intensif juga akan mendayagunakan banyaknya implemen dan jam kerja traktor.
  • Mengelolah tanah konservasi. Lalu untuk sistem pengolahan tanah konservasi akan meninggalkan sekitar 30 persen residu tanaman agar tetap ada di lahan pertanian.
  • Mengelolah tanah rotasi. Ini bertujuan untuk mengelolah tanah secara periodik, yakni di setiap 2 – 3 tahun sekali.
  • Mengelolah tanah berlajur. Sistem berlajur di sini dapat diartikan dengan hanya membajak lajur yang akan ditanam saja.
  • Tanpa pengelolahan tanah. Untuk yang terakhir ini berarti sama sekali tidak dilakukannya pembajakan tanah. Residu tanaman yang akan ditanam pada periode sebelumnya dibiarkan mengering begitu saja. Pada lahan dengan luasan yang cukup sistem tersebut butuh mesin tanam yang tak biasa, yakni yang bisa menanam di sela-sela residu tanaman yang masih berdiri tegak.

Jadi sudah jelas ya jawaban di atas tentang bagaimana petani zaman dulu mengolah tanah, semoga bermanfaat.

Leave a Comment