Mengapa Petani Indonesia Miskin

Mengapa Petani Indonesia Miskin? Temukan Jawabannya Disini!

Dikenal sebagai salah satu negara berkembang, tetapi mengapa petani Indonesia miskin? Bahkan angka kemiskinan di Indonesia cukup tinggi. Aviliani, selaku Sekretaris Jendral Komite Ekonomi Nasional (KEN) mengatakan bahwa rendahnya tingkat penghasilan yang dapatkan petani Indonesia diakibatkan oleh tingkat keekonomian aktifitas bertani yang terbilang masih sangat rendah.

Khususnya untuk para petani pangan yang sampai saat ini kehidupannya masih sangat rendah. Alasannya, pola pertanian yang diterapkan di negeri ini tanahnya hanya 0.3%, dimana angka tesebut sangat tidak ekonomis. Rendahnya tingkat ekonomi ini pula yang jadi alasan petani alami kesulitan ketika mereka harus melakukan pinjaman ke bank. Bahkan sampai sekarang tidak banyak bank yang memberikan kredit dana penyertaan modal bagi para petani.

 

Penyebab Utama Petani Indonesia Miskin

 

Tentu saja ada beberapa faktor penyebab petani Indonesia ada digaris kemiskinan. Salah satunya adalah mayoritas pendidikan petani Indonesia masih didominasi Sekolah Dasar. Hal demikian diyakini dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil tani. Untuk mensejahterakan kehidupan para petani Indonesia, sudah pasti harus ditingkatkan kembali mutu dan kualitasnya.

Terutama pada level usaha mirko sendiri, penyebab petani Indonesia miskin adalah jumlah rumah tangga para petani saat ini meningkat sekitar 26 juta rumah tangga. Dimana sebagian besar dari para petani tersebut masih hidup digaris kemiskinan.

Jika berbicara mengenai kemiskinan pada rumah tangga petani Indonesia tentu saja tidak jauh – jauh dari rendahnya pendidikan dan keterampilan masyarakat setempat.

Tidak hanya itu, faktor lain yang menyebabkan petani di Indonesia miskin adalah skala usahanya yang masih kecil. Khususnya di Pulau Jawa, rata-rata kepemilikan lahan dibawah setengah hektar sehingga yang demikian tersebut membuat mereka kesulitan untuk mengusahakan lahannya ditingkat yang menguntungkan. Selain itu, kesulitan dalam mengadopsi teknologi terkini juga menjadi faktor tani di Indonesia ada digaris kemiskinan.

Padahal seperti yang kita tahu saat ini kesejahteraan petani diidentikan dengan teknologi. Kesejahteraan para petani tidak selalu diidentikan dengan banyaknya petani yang ikut terlibat di sektor pertanian.

Contohnya saja di Australia, para petani bisa hidup sangat sejahtera, bahkan bisa pula menjadi orang kaya raya. Bukan karena ia memiliki petani dalam jumlah yang besar, tetapi kuncinya di sini ada pada lahan yang besar dan pengaplikasian teknologi terbaru. Yang demikian tersebut ternyata masih belum bisa terjadi di Indonesia.

Hal lain yang juga turut jadi batu ganjalan para petani Indonesia dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya adalah usaha tani masih sangat tradisioal, bahkan belum mengarah ke pengelolaan secara bisnis dengan skala besar.

 

Pertanian Indonesia Masih Pada Budidaya

 

Lalu menurut Presiden Joko Widodo sendiri penyebab utama petani di Indonesia miskin adalah karena pertanian di Indonesia masih berkutat pada budidaya, sementara itu nilai tambah ada diproses bisnisnya. Paradigma yang seperti ini suda pasti harus segera diubah secara besar-besaran. Kuncinya, bagaimana mengkonsolidasikan para petani agar mampu memiliki skala usaha yang lebih besar, skala perekonomian yang besar pula.

 

Nilai Tukar Petani Indonesia Paling Fundamental

 

Joko Widodo juga mengatakan bahwa nilai tukar petani Indonesia adalah hal paling fundamental agar mereka bisa mendapat untung yang lebih besar. Ini yang lama tidak disadari bahwasannya keuntungan yang besar tersebut datangnya dari proses bisnisnya, yakni proses agrobisnisnya. Oleh sebab itu seharusnya hal tersebut yang jadi konsentrasi para petani selama ini. Apalagi kondisi para petani di Indonesia sebagian besar hanya memiliki lahan berukuran kecil, yakni berkisar antara 0.25 – 0.3 hektar.

Untuk tingkatkan kehidupan yang sejahtera bagi para petani Indonesia, diperlukan adanya langkah untuk wujudkan korporasi petani, nelayan, juga peternak. Mereka tentu saja tidak bisa dibiarkan bekerja satu per satu seperempat hektar saja.

Diharapkan agar nanti ada langkah total untuk ubah paradigma sehingga petani di Indonesia harus memilih dari hulu hingga hilir. Proses ini tentunya harus disiapkan dengan matang. Korporasi tersebut harus disiapkan dengan baik pula.

Presiden yakin IPB punya kemampuan untuk siapkan petani-petani di Indonesia ke arah tersebut. Selain itu, Presiden juga mengatakan bahwa korporasi para petani dapat diwujudkan apabila awal industri benih telah disiapkan, aplikasi modern untuk produksi pun juga disiapkan.

Semoga tidak ada lagi pertanyaan mengapa petani Indonesia miskin, dan berkembangnya ilmu pertanian menjadikan lebih baik lagi sektor pertanian kita, Aamiin.

Leave a Comment