Mengapa Petani Mengalami Kesulitan Mengakses Kredit di Bank

Mengapa Petani Mengalami Kesulitan Mengakses Kredit di Bank?

Kali ini, Petani Digital akan membahas tentang tantangan yang sering terjadi di dunia pertanian mengenai mengapa petani mengalami kesulitan mengakses kredit di Bank?

Biasanya para petani akan memulai usahanya di bidang pertanian secara mandiri, yakni dengan merogoh uangnya sendiri. Tetapi tentu saja ada waktu dimana mereka harus mengembangkan usaha pertaniannya tersebut hingga akhirnya harus menghadapi sejumlah masalah.

Salah satu masalah yang kerap kali dihadapi para petani adalah mengenai masalah pembiayaan di bank yang sampai saat ini menjadi sesuatu yang tidak mudah didapatkan.

 

Petani Mengalami Kesulitan Kredit di Bank

 

Kira-kira apa sih yang melatarbelakangi para petani mengalami kesulitan mengakses kredit di bank? Mari simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Pada dasarnya tidak hanya para petani saja, tetapi nelayan, tukang sayur di pasar tradisional, dan sejumlah usaha mikro, kecil, serta menengah di Indonesia tidak memiliki akses kredit di bank. Mungkin hal ini pula yang menyebabkan produktifitas dalam negeri tidak bisa alami peningkatan yang drastis.

Apalagi di Indonesia sendiri sudah ada lebih dari 50 juta usaha mikro, kecil, dan menengah yang dinilai kurang bankable.

Tidak heran pula jika usaha di bidang pertanian yang juga termasuk dalam daftar usaha kecil di Indonesia masih tidak dilirik sektor perbankan. Hal ini memunculkan pertanyaan mengapa petani mengalami kesulitan mengakses kredit di bank. Berikut ada beberapa alasan utamanya yang harus Anda ketahui.

 

Prosedur pengajuan kredit bank sulit

 

Pada saat mengajukan kredit di bank, banyak sekali para petani yang merasa bahwa proses kredit di bank cukup merepotkan. Prosedur pengajuan kredit di bank bahkan bisa memakan waktu yang cukup lama, bisa mingguan atau bahkan bulanan.

Tentu saja petani yang ingin mengajuan kredit harus memenuhi semua syarat yang telah ditentukan pihak bank, dimana syarat tersebut pastinya tidak selalu mudah.

 

Tidak adanya agunan

 

Untuk meminimalisir resiko kredit, biasanya bank akan meminta agunan dalam pengucuran kredit bagi para pelaku usaha kecil. Tapi sangat disayangkan sekali ternyata tidak banyak para petani yang punya aset untuk dijadikan sebagai agunan untuk jumlah kredit yang mereka butuhkan.

 

Minimnya informasi

 

Tidak banyak bank – bank yang memiliki kantor cadang di desa – desa, apalagi di desa terpencil. Sehingga tidaklah mudah bagi pihak bank untuk jangkau usaha kecil seperti petani di pelosok daerah dan sebarkan informasi tentang layanan kredit bagi petani. Akibatnya, para petani pun banyak yang tidak tahu prosedur atau syarat pengajuan kredit bank.

 

Tidak ada layanan kredit mikro

 

Biasanya para petani hanya butuh sedikit pinjaman uang untuk membuat usaha di bidang pertaniannya tersebut tetap berjalan, dan mungkin sumber daya atau cash flow yang mereka miliki hanya cukup untuk bayar kembali kredit dalam jumlah kecil juga dalam waktu tertentu saja.

Yang jadi masalahnya di sini adalah kebanyakan bank tidak memberikan layanan permohonan pinjaman dibawah Rp 25 juta rupiah, untuk usaha skala kecil jumlah tersebut pastinya terasa cukup besar.

 

Petani Mengakses Kredit Di Bank Bukan Untuk Investasi Dan Modal

Selain hal tersebut, salah satu alasan kenapa petani kesulitan mengakses kredit di Bank adalah kredit bank ternyata tak sepenuhnya digunakan petani untuk investasi dan modal kredit. Banyak sekali diantara mereka yang menggunakannya untuk keperluan dan kebutuhan lain, seperti hajatan, biaya sekolah, dan lain-lain.

Tidak hanya itu, faktor lain penyebab rendahnya produktifitas para petani adalah terbatasnya penguasaan lahan, hingga akhirnya sebabkan tingginya tingkat kemiskinan di sektor tani. Yang demikian ini tentu saja tidak lepas dari seringnya terjadi fluktuasi harga serta tingginya ketergantungan dalam pemenuhan pangan dari impor.

Itu berarti kemandirian pangan tidak bisa terwujud jika petani masih terjebak di lingkar kemiskinan.

Faktor tersebut tentu saja membuat para petani enggan dan semakin kesulitan untuk mendapatkan kredit dari bank guna kembangkan usaha mereka. Hal ini tentu saja jadi tantangan tersendiri bagi usaha di Indonesia untuk tingkatkan inklusif finansial.

Tetapi meskipun demikian untungnya dalam beberapa tahun ini sudah mulai bermunculan platform kredit peer to peer. Ini tentu saja jadi alternatif yang tepat bagi para petani yang butuh pinjaman modal bisnis kecil. Platform pinjaman peer to peer tersebut tawarkan solusi yang inovatif untuk masalah pembiayaan bagi usaha kecil.

Leave a Comment