Petani Milenial

Peran Petani Milenial di Tahun 2020

Petani milenial mempunyai peran penting untuk saat ini. Karena, untuk melanjutkan pembangunan di sektor pertanian dibutuhkan dukungan dari SDM pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

Dan tentunya itu bisa didapatkan dari bangku pendidikan vokasi. Karena, pengembangan pendidikan vokasi menjadi kunci terhadap cikal bakal lahirnya petani milenial.

Hal tersebut telah dikatakan oleh Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi, bahwa jumlah petani Indonesia saat ini di tahun 2020 ada sekitar 33 juta jiwa.

Dari jumlah itu, didapat data bahwa hanya 29% petani yang usianya kurang dari 40 tahun, atau disebut sebagai petani milenial.

Faktor pengungkit produktivitas adalah inovasi teknologi dan sarana prasarana pertanian, serta kebijakan peraturan perundangan termasuk local wisdom, yang masing-masing kontribusinya sekitar 25%.

Sedangkan yang paling besar adalah SDM yang kontribusinya mencapai 50% dalam produktivitas.

Pembangunan pertanian belum cukup kalau hanya bicara inovasi, sarana dan prasarana, termasuk kebijakan peraturan perundangan. Yang utama adalah bagaimana kita meningkatkan SDM, sehingga mampu mengimplementasikan inovasi, sarana dan prasarana dengan baik dan benar, serta mampu mengusulkan kebijakan peraturan perundangan yang mendukung pertanian

Output dari pendidikan vokasi adalah qualified job creator dan job seeker. Qualified job creator artinya petani yang mandiri, bahkan mampu membuka peluang kerja buat rekan-rekannya. Petani ini yang paling diharapkan dari pendidikan vokasi.

Sementara qualified job seeker adalah petani milenial yang terampil dan menguasai pekerjaannya yang bisa ditempatkan diseluruh sektor dunia usaha dan industri pertanian.

Petani milenial produk vokasi harus mampu masuk dunia usaha dan industri.

Makanya, sistem vokasi harus selaras dengan dunia usaha dan industri, termasuk dalam kurikulum, proses belajar mengajar.

Vokasi harus mengetahui apa yang dibutuhkan dunia usaha dan industri. Dalam pendidikan vokasi 30% di kelas, 70% di teaching factory dan magang di dunia industri. Mereka melakukan praktik langsung di lapangan. Harus mengenal baik dunia industri dan usaha sebelum terjun ke dunia itu.

Pengertian Petani Milenial

Pengertian petani milenial adalah petani yang berusia antara 19-39 tahun. Gerakan dibentuknya petani milenial diyakini dapat mensejahterakan kehidupan berbangsa.

Nah, di artikel ini, Petani Digital coba menjelaskan terlebih dahulu tentang kata kunci Milenial untuk Anda yang perlu tahu apa yang dimaksud dengan petani Milenial.

Bahwa arti milenial adalah kelompok demografi, dimana tak ada batasan waktu yang pasti baik itu untuk awal maupun akhir dari kelompok tersebut.

Pada dasarnya karakteristik milenial khususnya di Indonesia berbeda-beda, berdasarkan wilayah maupun kondisi sosial ekonomi.

Tetapi demikian, generasi tersebut biasanya ditandai dengan adanya peningkatan penggunaan serta keakraban dengan komunikasi, media, juga teknologi digital.

Lantas, apa tujuan dan peranan milenial di dunia pertanian? Seperti yang kita ketahui bersama bahwa saat ini pemerintah mulai membentuk petani milenial, sebab dianggap mampu mendongkrak perekonomian bangsa.

Tujuan Utama Petani Milenial

Bahkan sampai saat ini generasi milenial masih terus dijadikan sebagai target utama dan penting untuk mendongkrak kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) di bidang pertanian. Dimana dalam program tersebut memiliki tujuan utama, yakni untuk menumbuh kembangkan kewirausahaan muda pertanian di Indonesia.

Tentu saja peran petani milenial di bidang pertanian penting sekali, sebab dianggap memiliki jiwa yang adaptif dalam pemahaman teknologi digital, sehingga tak terlalu kaku dalam melakukan identifikasi dan verifikasi teknologi.

Atas dasar itulah Kementan atau Kementerian Pertanian di Indonesia memiliki target 1 juta petani milenial yang ikut tergabung dalam 40 ribu kelompok di masing-masing daerah, dimana dalam setiap kelompok terdiri dari 20-30 orang.

Target tersebut tentu saja akan segera direalisasikan dalam beberapa fokus sektor komoditas pertanian, diantaranya sebagai berikut.

  • 000 petani milenial tanaman pangan
  • 500 petani milenial holtikultura
  • 500 petani milenial perternakan
  • 000 petani milenial perkebunan

Untuk mensukseskan program pertanian milenial tersebut tentu saja butuh persiapan dan sosialisasi hingga monitoring, serta evaluasi yang nantinya akan dilakukan untuk penumbuhan dan penguatan para petani milenial.

Selain itu, bantuan sarana dan pra-sarana pertanian juga turut diberikan oleh Kementan kepada petani milenial. Program tani milenial juga akan disingkronkan dengan program lain, seperti SERASI.

Contoh Petani Milenial

Salah satu contoh dari diwujudkannya program petani milenial ini terlihat sudah berjalan dengan baik di Tasikmalaya.

Dimana ada sekitar 15 ribu santri dari seluruh Indonesia yang mendapat pelatihan agribisnis, tujuannya agar mereka nanti bisa menerapkan praktik usaha pertanian secara modern mulai dari hulu hingga ke hilir.

Andi Amran Sulaiman, selaku Menteri Pertanian mengatakan bahwa, kegiatan yang bertajuk ‘Launching Santri Tani Milenial’ tersebut adalah salah satu upaya keseriusan Kementan dalam regenerasi di sektor tani.

Tentu saja yang demikian ini penting sekali, mengingat kebutuhan pangan di masa depan akan meningkat drastis seiring laju pertumbuhan penduduk, tetapi pada kenyataannya pekerja di dunia pertanian malah alami penurunan dan diisi oleh petani senior saja.

Memperkenalkan dan menggerakan petani milenial pada dasarnya menjadi pilihan yang tepat untuk regenerasi dan bisa meningkatkan produktifitas pertanian.

Petani Milenial Sukses

Berikut ini coba disajikan beberapa petani milenial sukses dalam menjalankan aktivitas di dunia pertanian. Yang cocok dijadikan contoh untuk mewujudkan gerakan Let’s be young Agripreneur!

Sandi Octa Susila

Petani Milenial Sukses - Sandi Octa Susila

Adalah Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian, dan pada usia 27 tahun telah mengelola 120 hektar tanah pertanian. Berpendidikan S2 IPB, penggerak 373 petani, serta lahan pribadi dengan membawahi 50 karyawan.

Garapan tanah itulah yang membantu Sandi secara bertahap meraup omzet dari Rp500 juta sampai Rp800 juta per bulan.

Agitya Kristantoko

Petani Milenial Sukses - Agitya Kristantoko

Yang biasa dipanggil Mas Tyo, anak muda asal Bojonegoro, Jawa Timur.

Dirinya sukses mengembangkan usaha tani dengan memanfaatkan teknologi digital sebagai alat pemasaran.

Pemilik “Omah Menyok” Gading dan tempat pelatihan sekaligus Agrowisata Edukasi Kuliner Omah Menyok di Jawa Timur itu hingga saat ini telah memproduksi 155 jenis olahan hasil dari singkong, seperti rengginang singkong, kripik singkong dan olahan makanan ringan lainnya dengan packaging yang cukup menarik.

Merk dagang camilan singkongnya “Gading” yang sudah dipatenkan di Kemenkumham dan dipasarkan di gallery produk olahannya, toko swalayan terkenal, pusat perbelanjaan dan market place seperti Bukalapak dan Shopee.

Shofyan Adi Cahyono

Shofyan Adi Cahyono - Petani Milenial Sukses

Duta Petani Milenial asal Semarang, sebagai Ketua Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Citra Muda dan pendiri P.O Sayur Organik Merbabu (SOM), Shofyan juga menjalani profesi sebagai konsultan pertanian, fasilitator, dan asesor pertanian organik di Lembaga Sertifikasi Profesi Pertanian Organik (LSPPO) Jakarta.

Bisnis jualan sayur organik yang dimulainya tahun 2014, dengan P.O Sayur Organik Merbabu (SOM) yang digagasnya sudah memasarkan 50 jenis sayuran organik ke sejumlah daerah di pulau Jawa hingga Kalimantan. Bahkan sampai ke Singapura dengan omzet mencapai Rp60 juta sebulan.

Rizal Fahreza

Petani Milenial Sukses - Rizal Fahreza

Generasi milenial usia 29 tahun ini mengawali usahanya dengan lahan seluas 2,2 hektare diperolehnya dengan sistem bagi hasil, melalui sewa lahan dan juga lahannya sendiri, Rizal menggandeng 17 petani hortikultura di enam kecamatan di Garut.

Hingga saat ini, suplai jeruk sebanyak 1,2 ton atau sekitar 400 dus jeruk per hari untuk Jakarta dan Bogor.

Enterpreneur muda penerima program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) ini merupakan salah satu SDM berkualitas yang dimiliki Indonesia.

Mahfudz

Petani Milenial Sukses - Mahfudz

Mahfudz (26 tahun), petani milenial asal Kabupaten Sampang, Madura, alumni Pelatihan Kewirausahaan Berbasis Kawasan Bagi Petani Muda yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan (BBPP) Ketindan, cakap membaca peluang pasar berbudidaya tanaman melon.

Dengan luas lahan 1 Ha, Mahfudz bisa menghasilkan 20-30 ton/ha dengan harga jual Rp.8000-Rp.10.000/kg.

Dalam satu tahun tanam, Mahfudz menanam 4 kali dan sekali panen mencapai 60-70 juta, jika diasumsikan omzetnya mencapai 250 juta rupiah.

Program Petani Milenial

Program petani milenial ini nanti pastinya akan melibatkan banyak anak muda di seluruh Indonesia. Program tersebut ditujukan khusus untuk mendorong regenerasi petani Indonesia, yakni dengan cara menumbuhkan wirausahawan muda di bidang tani.

Dengan begitu hal ini tentu saja akan membuka lapangan pekerjaan, khususnya di masyarakat pedesaan. Sehingga diharapkan agar program petani milenial juga dapat menekan angka kemiskinan dan urbanisasi.

Sesuai arahan penumbuhan dan pengembangan petani milenial berorientasi eksport sebanyak 1 juta orang.

Meskipun implementasi dari program petani milenial ini akan menyasar pada petani di usia 19-39 tahun, tetapi bagi mereka yang tidak ada dalam range umur tersebut namun memiliki jiwa milenial, tanggap teknologi digital, alsintan, dan juga memiliki lahan juga akan turut disasar.

Pengembangan dari program ini akan dibagi ke dalam zona kawasan jenis komoditas pertanian, yakni tanaman pangan hortikultura, perternakan, dan perkebunan.

Peran Petani Milenial

Peran petani milenial di masa sekarang menjadi penentu dari kemajuan pertanian di masa akan datang. Estafet petani selanjutnya adalah berpundak pada generasi muda, mereka memiliki inovasi, juga gagasan yang tentu saja lebih kreatif dan sangat bermanfaat bagi keberlangsungan pertanian.

Terlebih di era revolusi industri seperti sekarang, yang ditandai dengan penggunaan mesin-mesin otomatis yang sudah terintegrasi dengan jaringan internet.

Di era digital seperti sekarang sektor pertanian juga beradaptasi dengan teknologi 4.0 untuk menjawab tantangan ke depan. Disitulah peran serta generasi milenial

Mau tidak mau sektor pertanian harus bisa beradaptasi dengan teknologi untuk menjawab tantangan ke depannya.

Pasalnya, pertanian tidak mungkin mampu mencukupi kebutuhan penduduk yang terus bertambah tanpa teknologi. Maka dari itulah kaum muda atau petani milenial dalam hal ini penting peranannya.

Semoga petani mudah zaman now mendukung pembangunan pertanian di Indonesia, Aamiin.

Leave a Comment