Pupuk Kimia : Pengertian, Fungsi, dan Contohnya

Pupuk kimia, bagi orang yang bergerak di usaha tani pasti tak asing dengan penggunaannya. Nama lain dari pupuk anorganik ini adalah pupuk buatan pabrik yang memiliki nutrisi dengan persentase tetap. Selain praktis, pupuk ini umumnya dijual dengan bebas.

Meski begitu, penggunaan pupuk ini masih menuai pro dan kontra. Pasalnya, pupuk ini menghasilkan residu jika penggunaannya dilakukan secara berlebihan. Berikut ini adalah ulasan lengkap mengenai pupuk anorganik mulai dari jenis, cara memilih, kelebihan, dan kekurangannya:

Pengertian Pupuk Kimia

Pupuk kimia adalah pupuk anorganik yang pembuatannya berlangsung di pabrik dan dilakukan secara proses kimiawi. Pupuk ini mengalami proses yang panjang karena harus mengikuti perhitungan hara yang menyusunnya. Pupuk ini terdiri dari pupuk tunggal dan majemuk.

Apa itu pupuk anorganik tunggal? Artinya pupuk ini hanya mengandung satu hara saja. Sebagai contoh adalah pupuk urea (N), pupuk KCl yang mengandung kalium dan SP-26 yang mengandung fosfat saja. Penggunaan pupuk ini harus dibarengi oleh pupuk jenis lain.

Berbeda dengan pupuk anorganik majemuk yang artinya memiliki unsur hara lebih dari satu. Contoh yang paling populer adalah pupuk NPK dengan persentase tertentu, tergantung dari merk pabriknya. Merk terkenal adalah pupuk mutiara dan pupuk phonska.

Cara Memilih Pupuk Kimia yang Aman untuk Tanaman

1. Perhatikan Kualitas Pupuk

Ketika memilih pupuk tidak bisa sembarangan. Anda harus memperhatikan dengan detail kandungan yang ada pada pupuk. Tidak semua tanaman membutuhkan fosfor, misalnya. Dengan begitu, hindarilah membeli pupuk tunggal dengan hara yang tidak dibutuhkan.

2. Lihat Kebutuhan Tanaman

Perhatikan kebutuhan tanaman yang Anda miliki. Tak semua tanaman membutuhkan semua kandungan yang ada di dalam pupuk yang dipilih. Jika hanya membutuhkan kalium, belilah pupuk KCl. Jika membutuhkan beragam jenis, maka pilihlah pupuk jenis kimia yang majemuk.

3. Terpercaya dan Populer

Hal yang paling penting dalam pemilihan pupuk anorganik bagi tanaman adalah soal terpercayanya pupuk tersebut. Hindari memilih pupuk yang tidak memiliki sertifikasi resmi dari departemen pertanian. Hal ini menghindari kerusakan tanaman karena kandungan pupuk yang tidak pasti.

Efek Samping Menggunakan Pupuk Kimia

1. Tanah Menjadi Rusak

Bukan rahasia lagi jika pupuk kimia bisa merusak tanah. Hal ini berhubungan dengan sifatnya yang tidak larut semua oleh tanah. Sisa dari pupuk tersebut akan terbawa angin atau air hujan yang mengalir ke tanah sehingga tersebar ke area sekitarnya.

2. Tanah Lengket

Penyebaran sisa dari residu pupuk juga menyebabkan kondisi tanah yang menjadi lengket. Tanah yang seharusnya gembur malah membentuk agregat yang menyerupai tanah liat. Hal ini akan menyebabkan tanah menjadi sulit untuk ditanami dengan tanaman baru.

3. Unsur Hara Tidak Seimbang

Penggunaan pupuk jenis ini juga mengganggu unsur hara yang ada pada tanaman. Tanah hanya kaya akan satu unsur pupuk atau NPK saja, namun kekurangan mineral lainnya. Sementara tanaman butuh hara lain seperti magnesium atau kalsium. Akibatnya tanaman sulit tumbuh optimal.

4. Kematian Mikroorganisme

Di dalam tanah terdapat hewan dan mikroorganisme lainnya. Penggunaan pupuk yang berlebihan mengakibatkan mikroorganisme menjadi mati. Sementara peran mereka sangat penting untuk perkembangan tanaman. Hasilnya, tanaman malah layu karena akar yang tidak kuat.

5. Kualitas Air Menjadi Buruk

Air hujan yang jatuh ke dalam tanah akan terserap ke dalam tanah. Air juga akan membawa hal-hal mikro di atasnya, termasuk residu dari pupuk. Akibatnya, air tanah mengandung bahan kimia tertentu sehingga kualitas air tanah menjadi sangat menurun.

6. Tumbuhnya Eceng Gondok

Eceng gondok adalah tanaman air yang merupakan akibat dari limbah pupuk. Jika perairan di sekitar Anda memiliki eceng gondok dalam jumlah banyak, artinya banyak residu pupuk kimia yang terbawa ke perairan. Eceng gondok akan menyebabkan ikan di danau atau sungai menjadi berkurang.

Fungsi Pupuk Kimia

1. Melebatkan Daun

Daun merupakan salah satu indikator dari pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jika daunnya tidak lebat, artinya tanaman kekurangan nitrogen dan kalium. Pupuk anorganik akan membantu tanaman untuk bisa memiliki daun yang rimbun dan juga berwarna hijau segar.

2. Tanaman Tumbuh Tinggi

Apapun macam macam pupuk kimia dan fungsinya secara utama adalah meninggikan tanaman. Pupuk akan merangsang pertumbuhan ini, sehingga hasilnya tumbuhan menjadi lebih tinggi. Tak hanya tanaman semusim, pupuk anorganik juga cocok untuk tanaman tahunan.

3. Fotosintesis Cepat

Proses fotosintesis adalah tanda bahwa tanaman bisa menghasilkan makanannya sendiri. Selain itu, akan ada CO2 yang diserap dan O2 yang dilepaskan. Dalam hal ini, pupuk akan berperan dalam mempercepat proses fotosintesis sehingga cadangan makanan pun menjadi lebih banyak.

4. Akar Kuat

Akar yang kuat memiliki sifat yang lembab dan tumbuh sesuai dengan usianya. Untuk akar serabut, maka akar perlu memiliki jumlah yang banyak. Sementara akar tunggang perlu menjurus ke dalam. Pupuk akan menjaga akar tanaman bisa kokoh hingga masuk fase dewasa.

5. Kaya Akan Nitrogen

Nitrogen adalah unsur hara tanaman dan tanah yang sangat dibutuhkan selama proses pertumbuhan. Tanaman perlu menyerap nitrogen dan membutuhkan bantuan dari pupuk jenis kimia. Nantinya, pupuk akan berperan dalam mengundang nitrogen di atmosfer untuk diolah tanaman.

6. Hasil Panen Melimpah

Siapa yang tidak membutuhkan hasil panen melimpah? Semua petani pasti mengharapkan hal ini. Untuk itu, pupuk anorganik sangat populer bagi petani baik pangan maupun perkebunan. Pupuk akan membantu dalam perkembangan yang optimal sehingga menghasilkan bahanan panen yang banyak.

7. Mudah Larut Dalam Air

Meskipun bentuknya granula, namun sebagian besar tanaman memiliki sifat larut dalam air. Mereka akan mudah pecah hanya karena lembab atau terkena air hujan. Granula akan mengecil, lalu masuk ke dalam tanah untuk menutrisi tanaman melalui bagian akar.

Contoh Pupuk Kimia

1. NPK Mutiara 16-16-16

Pupuk ini tak hanya mengandung unsur hara makro, namun juga hara mikro. Pupuk NPK sesuai dengan namanya yang termasuk ke dalam kategori pupuk majemuk. Bentuknya adalah butiran granula dan memiliki warna biru cerah. Kandungannya adalah 16% N, 16% P dan 16% K.

Penggunaan pupuk mutiara pada pertanian digunakan secara luas. Anda bisa menggunakannya untuk keperluan memupuk sayuran, industri karet, perkebunan kelapa, hingga pangan. NPK 16-16-16 juga bisa berfungsi untuk pupuk susulan atau pupuk utama.

2. NPK BSF 15-15-15

Unsur hara dalam pupuk ini terdiri dari 5 jenis. Selain N 15%, P15%, K 15%, ada juga kandungan hara mikro lain seperti magnesium Mgo sebanyak 0,5% dan Kalsium sebanyak 6%. Pupuk Basf dijual dengan kemasan plastik dengan berat sekitar 5 kilogram per kemasan.

Warna pupuk Basf adalah biru pudar berbentuk granula halus. Pabrik membuatnya melalui proses odda dengan bantuan fosfat dan asam nitrat. Fungsi pupuk ini sangat baik untuk pertumbuhan tanaman sayur dan buah karena merangsang dengan waktu yang sebentar.

3. Phonska 15-15-15

Bagi Anda yang mencari pupuk dengan sifat higroskopis, gunakan Phonska 15-15-15. Sifat higroskopis artinya mudah larut dalam air. Pupuk kimia ini menyerap ke dalam akar dan lapisan tanah dengan cepat layaknya pupuk organik. Butiran Phonska berwarna merah muda.

Sayangnya, untuk mendapatkan pupuk ini tidaklah sembarangan. Anda harus tergabung dalam kelompok usaha tani karena distribusinya berlangsung tertutup. Kandungan pupuk ini adalah N 15%, P 15%, K 15% dan S 10%.

4. TSP-P 46

Sesuai dengan namanya, pupuk ini terdiri dari kandungan fosfor yang sangat tinggi. Warnanya abu-abu dengan bentuk granula. Pupuk ini sangat sulit untuk larut dalam air dan butuh waktu lama hingga granulanya menjadi kecil dan menyerap ke dalam tanah.

Tanaman yang kekurangan fosfor ditandai dengan pertumbuhannya yang kerdil dan tidak sesuai dengan usianya. Tandanya, tanaman tersebut membutuhkan fosfor dalam jumlah tinggi. Namun, TSP-P 46 hanya digunakan untuk tanaman semusim saja seperti jagung atau kacang tanah.

5. Pupuk SP-36

Sp-36 merupakan pupuk yang juga sulit untuk larut dalam air, namun penyimpanannya sangat awet dalam jangka waktu lama. Pembentuk dari pupuk SP-36 adalah asam fosfat dan asam folat. Bentuk pupuk adalah granula berwarna abu-abu dan reaksinya yang lambat.

Pupuk kimia ini adalah pupuk majemuk dengan banyak unsur hara penyusunnya. Ada kadar asam sitrat 34%, air 5%, asam bebas 6%, dan P2O5 yang mencapai 36%. Cara pemakaiannya adalah ditabur di sekeliling tanaman, tapi tidak menyentuh bagian akar karena sifatnya membakar.

Keunggulan Pupuk Kimia Dibandingkan Pupuk Organik

1. Persentase Kandungan Jelas

Berbeda dengan pupuk organik, pupuk yang satu ini memiliki jumlah kandungan yang sudah pasti. Misalnya Phonska 15-15-15 berarti masing masing N, P, K memiliki persentase sebanyak 15%. Petani pun bisa memperkirakan seberapa banyak pemakaiannya untuk tanaman.

Berbeda dengan pupuk organik. Ketika Anda membuat pupuk sendiri, maka Anda tidak bisa memastikan kandungan di dalamnya. Begitu juga pupuk kandang yang N, P dan K yang sangat rendah sehingga butuh jumlah yang banyak untuk sekali pakai.

2. Mudah Terurai

Kelebihan pupuk yang tidak bisa disangkal adalah mudah terurai. Baik nitrogen, fosfor, maupun kaliumnya akan luruh bersama air kemudian meresap ke dalam tanah. Tanah juga akan mengolah unsur hara dengan cepat untuk bisa segera dipakai oleh tanaman.

3. Mudah Terserap

Setelah menyerap ke dalam tanah, unsur kimia yang ada pada tanaman langsung dikenali oleh tumbuhan. Hal ini membuat akar bisa menyerap pupuk dengan lebih baik. Hanya saya, jumlah yang kelebihan akan ditolak tumbuhan dan berakhir menjadi residu.

4. Mudah

Penggunaan pupuk kimia bisa dikatakan relatif mudah. Hal yang perlu Anda lakukan hanyalah menyemprot ke sekitar akar tanaman jika berbentuk cair. Apabila bentuknya granula, Anda hanya perlu menaburkannya di sekitar tanaman. Pupuk ini juga mudah dibeli di toko pertanian.

5. Intensif

Pemberian pupuk jenis kimia tergolong menjadi perawatan yang sangat intensif. Pasalnya, pupuk ini memiliki unsur hara pasti yang sangat tinggi. Artinya, dengan pemberian pupuk maka diharapkan tanaman bisa menghasilkan perkembangan pesat dan hasil panen yang melimpah.

Kelemahan Pupuk Kimia Dibandingkan Pupuk Organik

1. Tergantung Pabrik

Sayangnya, jika Anda ketergantungan dengan penggunaan pupuk kimia maka akan sulit jika pabrik berhenti memproduksi pupuk. Belum lagi adanya kemungkinan ketika distribusi pupuk yang macet. Aktivitas usaha tani akan menjadi terhambat karena persediaan pupuk yang minim ini.

2. Harga Tinggi

Dibandingkan dengan pupuk organik, pupuk organik memiliki harga yang cukup tinggi. Hal ini karena persentase hara yang jelas dan juga pendistribusian dari pabrik hingga ke tangan petani. Bahan pembuatan pupuk juga menggunakan bahan sintetis yang mahal didapatkan.

3. Harus Tepat Dosis

Anda juga tak bisa sembarangan ketika memberikan dosis pupuk ke tanaman. Ada takaran tertentu agar pupuk tak menjadi residu. Terlalu banyak pupuk akan membuat tanaman tumbuh tidak optimal, begitu juga dengan ketika kekurangan dosis.

4. Harus Tepat Waktu

Anda tak bisa memberikan pupuk anorganik pada pagi hari. Pupuk akan terkena panas matahari, kemudian bisa menguap ke udara. Saat menggunakan pupuk ini, maka Anda harus bersedia memberikannya pada sore hari sekitar pukul 17.00.

5. Unsur Hara Tanah Tidak Seimbang

NPK yang tinggi tanpa adanya unsur hara makro dan mikro lainnya membuat unsur hara di tanah tidak seimbang. Pemakaian yang berlebihan membuat mikro organisme dalam tanah mati. Hasilnya, unsur hara baik tidak bisa dihasilkan oleh tanah sehingga tanah menjadi tidak subur.

6. Ph Tanah Menurun

Ukuran pH sangat penting untuk perkembangan sebuah tanaman. Tanpa pH yang sesuai, tanaman akan memiliki kekurangan seperti akar yang lemah, batang pendek dan daun yang sedikit. Pupuk kimia bisa mengakibatkan hal ini terjadi karena unsur hara tidak seimbang.

7. Menghasilkan Residu

Hal ini adalah permasalahan besar dari penggunaan pupuk organik. Sebagian besar orang tidak mempedulikan dosis yang tepat. Akibatnya, residu dihasilkan oleh pupuk yang tidak terserap. Kemudian, mereka menjadi terbawa limpasan air hujan ke area lain atau terserap ke air tanah.

8. Hasil Tidak Sehat

Penggunaan pupuk anorganik bisa sangat membahayakan apabila tidak tepat guna. Apalagi jika jenis tanamannya adalah tanaman umbi. Pupuk yang berlebih akan terserap oleh umbi, sementara umbi dimakan manusia. Dengan kata lain, umbi bisa membahayakan kesehatan.

Cara Kerja Pupuk Kimia

1. Melarutkan Pupuk

Idealnya, penggunaan pupuk kimia adalah dengan cara dilarutkan ke dalam air terlebih dahulu. Setelah larut setidaknya menjadi granula lebih kecil, maka pupuk harus disiram ke tanah di sekitar tanaman. Tetapi, air pupuk tidak boleh menyentuh bagian akarnya.

2. Penyerapan Ke Tanah

Pupuk yang cair akan menyerap ke tanah. Itu sebabnya pemberian pupuk sebaiknya tidak dilakukan di pagi hari, karena hanya akan membuat larutan menguap. Pupuk anorganik akan menyerap ke tanah dan menutrisi bagian terpenting yakni akarnya.

3. Diserap Akar

Proses terpenting dari pupuk adalah nutrisinya yang dikenal oleh bagian akar. Akar biasanya dengan cepat mengenali unsur hara dalam pupuk, kemudian dibawa oleh xylem dan floem ke seluruh bagian tanaman termasuk daun.

4. Mengaktifkan Aktivitas Tumbuhan

Transportasi hara pupuk akan mengaktifkan berbagai macam aktivitas di antaranya adalah dengan mempercepat fotosintesis dan meningkatkan klorofil. Batang akan meninggi, sementara akar pohon menjadi lebih kuat.

5. Residu Melimpah

Saat terlalu banyak jumlah pupuk yang tidak digunakan, tanah tidak akan mampu lagi menyerap apalagi jika bentuknya adalah granula. Itulah mengapa penggunaan pupuk kimia dalam pertanian dapat memicu terjadinya pemanasan global jelaskan. Pupuk akan menguap dan menjadi metana.

Itu merupakan dampak penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Maka, akan jadi sebuah tantangan yang luar biasa bagi dunia pertanian akan bahaya pupuk kimia disaat penggunaan tidak sesuai dosis.

Harga Pupuk Kimia

• Pupuk Urea : Rp 2.300,00 per kilogram.
• Pupuk ZA : Rp 1.400,00 per kilogram.
• Pupuk SP-36 : Rp 2.100,00 per kilogram.
• Pupuk NPK : Rp 2.600,00 per kilogram
• Pupuk NPK Khusus : Rp 3.200,00 per kilogram.
• Pupuk Phonska Plus : Rp 8.000,00 per kilogram.

Baca : Pupuk Organik Yang Bagus

Nah, demikian informasi mengenai pupuk kimia, semoga menjadi bacaan yang bermanfaat ya.

Leave a Comment