Zakat Pertanian

Zakat Pertanian Berapa Persen? Ini Pengertian & Cara Menghitung Zakat Hasil Pertanian

Zakat pertanian berapa persen? Dan cara menghitung zakat hasil pertanian serta nishab zakat pertanian dan dalilnya diuraikan di dalam artikel ini.

Sebagai umat muslim tentunya setiap orang perlu untuk menunaikan segala kewajiban yang dimilikinya dalam menjalankan hidupnya. Dimana pada dasarnya setiap orang memiliki kewajiban untuk dapat menjalankan kewajibannya dengan baik dan juga maksimal.

Salah satunya adalah menjalankan perintah untuk membagikan sebagian dari rezeki yang didapatkannya kepada orang lain.

Pada dasarnya seorang mukmin memiliki kewajiban untuk menyalurkan rezekinya secara ikhlas melalui zakat yang dikeluarkannya. Hal tersebut dilakukan karena pada dasarnya zakat sendiri menjadi rukun ketiga dari rukun islam yang menjadi pedoman bagi umat muslim.

Ada banyak sekali zakat yang wajib untuk dijalankan dengan penuh keikhlasan yang berasal dari diri agar kemudian bisa mendapatkan balasan yang baik dari Allah SWT.

Pada dasarnya sebuah zakat dikeluarkan untuk bisa mensucikan nikmat berupa rezeki yang didapatkannya. Adanya zakat yang dikeluarkan dengan tepat sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan akan membuat harta yang dimiliki menjadi berkah.

Adanya pembagian zakat yang dilakukan dengan tepat akan membantu setiap orang menjalankan kehidupan dengan adanya kedamaian. Sehingga diwajibkan bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah untuk dapat memberikan sebagian hartanya kepada orang yang tepat.

Ada beberapa orang yang berhak mendapatkan zakat yang kita salurkan sebagai bentuk keimanan kepada Allah SWT. Orang miskin, anak yatim, dan juga fakir miskin merupakan segelintir orang yang berhak untuk menerima zakat yang kita salurkan.

Adanya penyaluran zakat yang dilakukan dengan tepat akan memberikan kemurnian kepada harta yang dimiliki. Jika kita telisik bersama maka dapat diketahui bahwa pada dasarnya ada beberapa zakat yang wajib untuk dikeluarkan dalam kaitannya dengan pemurnian harta.

Ini juga berkaitan dengan pemberian zakat pertanian yang pada dasarnya sudah diatur didalam ketentuan Allah melalui ayat ayat Al-Qur’an.

Pengertian Zakat Pertanian

Zakat adalah sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mengeluarkan sebagian dari harta yang dimilikinya dan diberikan kepada orang yang tepat.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa pada dasarnya zakat sendiri wajib diberikan kepada fakir miskin, anak yatim piatu, dan juga orang orang yang ada disekitar kita.

Adanya pemberian zakat yang dilakukan bertujuan untuk dapat membersihkan harta yang dimiliki sebagai upaya bersyukur kepada Allah SWT. Dan konsep dari zakat sendiri memang tidak dapat dihitung menggunakan perhitungan logika saja karena perlu adanya keyakinan akan balasan yang diberikan oleh Allah.

Allah SWT pada dasarnya telah memberikan perintah pada setiap umatnya untuk dapat menunaikan zakat dengan adanya keikhlasan.

Adanya zakat yang dikeluakan dengan keikhlasan yang dimiliki akan membuat munculnya balasan yang lebih baik lagi nantinya. Jika kita membahas tentang zakat pertanian maka pengeluaran harta yang dilakukan masuk dalam kategori zakat mall.

Dimana pada dasarnya zakat dalam bidang pertanian sendiri membuat seseorang perlu mengeluarkan sebagian dari harta yang dimilikinya.

Intinya zakat dalam bidang pertanian sendiri masuk dalam zakat mall dan pengeluarannya tidak sama dengan zakat fitrah yang setiap tahunnya harus dikeluarkan oleh semua orang.

Menjadi penting bagi kita untuk dapat memahami tentang apa itu zakat mall dalam kaitannya dengan pemberian hasil pertanian yang didapatkan.

Ya, memang pada dasarnya zakat dalam bidang pertanian sangatlah identik dengan adanya hasil pertanian yang dimiliki oleh seseorang. Karena, zakat dalam bidang pertanian sendiri berbeda dengan jenis yang lainnya karena besaran nilai zakat yang dikeluarkan berbeda satu dengan yang lainnya.

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya zakat dalam bidang pertanian sendiri dilakukan atau dikeluarkan oleh seorang petani ataupun perusahaan pertanian.

Dimana mereka melakukan pengerjaan pertanian sesuai dengan cara yang dilakukan dalam mengolah pertanian dan kemudian sebagaian dari hasil yang didapatkan dijadikan sebagai zakat.

Latar Belakang Zakat Pertanian

Pada dasarnya Allah SWT sudah memberikan perintah kepada ummatnya bahwa pengeluaran zakat atas harta yang dimiliki wajib hukumnya.

Perlu diketahui bahwa Allah SWT sendiri sudah memberikan perintah kepada setiap ummatnya bahwa perlu untuk mengeluarkan zakatnya.

Perintah untuk mengeluarkan zakat yang dihasilkan dari usaha yang dilakukan berkaitan dengan pemanfaatan apa yang dilakukan di bumi. Tentunya zakat pertanian sendiri menjadi sebuah hal yang wajib untuk dilakukan oleh setiap orang beriman dalam upaya memurnikan hasil yang didapatkannya.

Zakat dalam bidang pertanian sendiri akan membuat setiap orang bisa mendapatkan kemurnian atas hasil yang didapatkannya.

Mungkin bagi sebagian orang mengeluarkan hasil pertanian sebagian untuk zakat dirasa berat karena akan mengurangi hasil keseluruhan yang didapatkan.

Perlu diketahui, jika kita mengeluarkan sebagian dari hasil pertanian yang didapatkan maka akan didapatkan keuntungan tersendiri.

Dimana selain adanya kemurnian dari hasil pertanian yang kita dapatkan maka akan dibalas oleh Allah berkali lipat seperti cabang pohon yang terus berkembang. Sehingga bagi setiap pemilik usaha pertanian untuk dapat mengeluarkan zakat sebagai sebuah kewajiban yang dilakukan secara ikhlas.

Zakat Pertanian Dalam Islam

Islam mengajarkan bahwa zakat pertanian menjadi sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim yang beriman. Adanya zakat dalam bidang pertanian yang dilakukan bertujuan untuk dapat memurnikan hasil pertanian yang didapatkan nantinya. Dalam surat Al-Baqarah ayat 267, Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (QS. Al Baqarah: 267).

Dari firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 267 tersebut dapat dipahami bahwa pada dasarnya ada kewajiban bagi setiap orang yang beriman. Allah telah memerintahkan kepada setiap orang yang beriman untuk dapat menafkahkan sebagian dari hasil usaha yang baik dijalankan Allah.

Dari ayat tersebut juga dapat diketahui bahwa pada dasarnya setiap muslim yang beriman juga memiliki kewajiban untuk menafkahkan sebgaian dari apa yang telah di keluarkan dari bumi.

Adanya penjelasan tersebut tentunya perlu disadari bahwa pada dasarnya mengeluarkan zakat dari hasil pertanian yang dijalankan wajib hukumnya untuk dilakukan.

Di dalam surat lainnya Allah SWT lebih jelas menegaskan bahwa pada dasarnya zakat pertanian itu wajib hukumnya. Lebih jelasnya Allah SWT telah menegaskan pada surat Al An’am ayat 141. Allah berfirman;

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآَتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin).” (QS. Al An’am: 141).

Dari ayat di atas dapat dijelaskan bahwa pada dasarnya Allah SWT telah menjadikan kebun kebun manusia menjadi berjunjung dan tidak berjunjung.

Adanya berbagai macam pohon serta tanaman lainnya yang bermacam macam buahnya seperti buah zaitun dan juga buah delima. Setiap manusia diberikan nikmat oleh Allah SWT untuk dapat menikmati berbagai macam buah yang telah dihasilkan tersebut sebagai hasil yang didapatkan.

Maka dari itu Allah memerintahkan kepada setiap ummatnya agar dapat menyisihkan sebagian dari hasil pertanian tersebut kepada orang yang berhak. Baik itu fakir miskin, anak yatim piatu, dan juga beberapa orang lainnya yang pada dasarnya memiliki hak atas zakat yang kita berikan.

Nishab Zakat Pertanian Dan Dalilnya

Pada dasarnya zakat pertanian sendiri perlu dilakukan dengan tepat dan juga baik berdasarkan dalil yang telah ditetapkan dalam islam. Adanya zakat di bidang pertanian yang dilakukan sesuai dengan nishab yang telah di tentukan akan membuat mereka mendapatkan balasan yang baik dari Allah.

Ketetapan dari nishab hasil pertanian sendiri adalah 5 wasaq yang dapat disetarakan dengan 750 kg. Nishab pada hasil pertanian tersebut pada dasarnya disetarakan untuk semua jenis makanan pokok yang diperlukan oleh manusia.

Jika kita membahas tentang zakat dalam bidang pertanian maka tentunya ada banyak dalil yang menunjukkan bahwa pada dasarnya zakat dari hasil pertanian wajib hukumnya. Adanya zakat pada pertanian tentunya dilakukan pada beberapa jenis tanaman tertentu dengan kadar yang sudah ditentukan pula.

Dan tidak ada zakat bagi tanaman yang hasilnya hanya dibawah 5 wasaq. Tentunya ini menjadi penguat bagi adanya ketentuan zakat di bidang pertanian yang harus dikeluarkan oleh setiap orang mukmin.

Pada dasarnya zakat pertanian diwajibkan untuk beberapa jenis tanaman yang ditanam oleh seorang petani atau perusahaan yang bergerak dalam bidang pertanian.

Para ulama pada dasarnya sudah sepakat bahwa hasil dari pertanian yang diwajibkan untuk dikeluarkan zakatnya adalah pada empat komoditas yang ditentukan.

Dimana empat komoditas tersebut yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya adalah gandum kasar, gandum halus, kurma dan juga kismis. Adanya nishab tersebut tentunya memperjelas apa saja jenis tanaman yang pada dasarnya dikenakan zakat dari hasil yang sudah didapatkannya.

Ali bersabda bahwa;

عالصدقة عن أربع من البر فإن لم يكن بر فتمر فإن لم يكن تمر فزبيب فإن لم يكن زبيب فشعير

“Zakat (pertanian) hanya untuk empat komoditi: Burr (gandum halus), jika tidak ada maka kurma, jika tidak ada kurma maka zabib (kismis), jika tidak ada zabib maka sya’ir (gandum kasar).” (HR. Bukhari Muslim)

Dari penjelasan hadist diatas maka dapat dikatakan bahwa ada beberapa komoditas tanaman yang pada dasarnya diwajibkan untuk pemiliknya mengeluarkan zakat.

Beberapa komoditas tanaman tersebut diantaranya adalah gandum halus yang menjadi bahan makanan pokok utama yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Apabila tidak ada gandum halus maka tentunya kita bisa mengeluarkan zakat dari hasil pertanian kurma yang dilakukan tentunya. Apabila pertanian yang dilakukan tidak ada bahan berupa gandum halus dan juga kurma maka bisa menggantinya dengan kismis dan juga gandum kasar.

Tentunya tidak semua komoditas tanaman diwajibkan untuk mengeluarkan zakat sebagai bentuk kegiatan memurnikan hasil pertanian yang dijalankannya.

Zakat Pertanian Berapa Persen?

Jika kita menghitung zakat dari hasil pertanian yang didapatkan maka sesuai dengan pendapat dari jumhur ulama batas minimal hasil panen yang diwajibkan zakat adalah 5 wasaq. Pada dasarnya adanya ketentuan tersebut didukung oleh adanya hadist yang diriwayatkan oleh bukhari muslim.

Untuk hasil pertanian yang kurang dari 5 wasaq maka tidak akan diwajibkan dikeluarkannya zakat. Jika kita menghitung zakat pertanian maka ada perhitungan khusus yang harus diperhatikan dengan baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Berikut beberapa perhitungan yang perlu dilakukan:

Pada dasarnya 1 wasaq adalah sebesar 60 sho’, sedangkan untuk 1 sho’ sendiri adalah 4 mud. Jika kita menghitung nishabnya maka dapat dijumlahkan menjadi 1 wasaq = 60 x 40 mud yang artinya setara dengan 240 mud.

Sedangkan didalam ketentuan zakat mengenai hasil pertanian sendiri minimalnya adalah 5 washaq yang didapatkan. Sehingga jika dikalkulasi menggunakan perhitungan matematika adalah bahwa 5 wasaq = 240 mud x 5 yang artinya setara dengan 1200 mud.

Jika kita melakukan perhitungan dengan menghitung jumlah mud maka dalam satu mudnya sama dengan ukuran dua telapak tangan penuh dari pria sedang.

Dalam zakat pertanian sendiri ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan dengan tepat dalam ukuran di setiap negaranya. Tentunya Indonesia menggunakan timbangan berupa kilogram dalam setiap massa suatu bahan ataupun hasil pertanian yang dimiliki.

Lalu bagaimana jika nantinya nishab dari zakat pertanian itu sendiri di konversikan menjadi timbangan yang berupa kilogram? Tentunya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan nishab dari zakat dalam pertanian yang dikonversi pada berat per kilogramnya.

Penting pula bagi kita agar dapat memahami bagaimana konversi dari timbangan yang menggunakan kilogram dalam memberikan zakat yang harus di keluarkan.

Seperti yang kita ketahui bahwa pada dasarnya sho’ sendiri adalah dasar dari ukuran yang berbentuk takaran yang dilakukan oleh orang pada dahulunya. Pada dasarnya sesuai dengan perkembangan jaman yang sudah semakin maju maka saat ini ukuran menggunakan sho’ sendiri sudah tidak lagi digunakan.

Pastinya seperti yang kita ketahui bersama bahwa pada dasarnya sho’ sendiri sekarang ini sudah tidak berlaku lagi dalam ukuran timbangan yang dibutuhkan.

Sebagian ulama sendiri telah menetapkan bahwa ada takaran yang dibutuhkan dalam timbangan satu sho’ itu sendiri.

Dan dalam satu sho’ sendiri sama dengan berat sebanyak 2,4 kg yang pastinya sudah menjadi ketentuannya.

Untuk zakat pertanian sendiri pada dasarnya syaikh ibnu baz sendiri sudah menyatakan bahwa dalam takaran satu sho’ sendiri kira kira bisa mencapai 3 kg.

Dan tidak ada ukuran baku dalam timbangan kilogram yang dihitung berdasarkan ukuran dalam setiap sho’-nya. Karena pada dasarnya setiap ukuran baku dalam setiap timbangannya sendiri tidak akan sama karena semua benda memiliki massa yang berbeda beda.

Oleh karena itu, kita perlu mengikuti ketetapan yang sudah diberikan oleh para ulama mengenai takaran sho’ yang dikonversikan pada besaran kilogram tentunya.

Dengan begitu maka kemudian Anda akan mendapatkan kemudahan untuk bisa menghitung adanya besaran hasil pertanian yang didapatkan nantinya.

Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya bahwa pada dasarnya ketetapan dari timbangan kg yang dikonversikan dari ukuran 1 sho’ sendiri adalah 2,4 kg. Maka pada dasarnya perhitungan nishab yang dwajibkan pada sebuah hasil tanam adalah 5 wafaq yang setara dengan 300 sho’.

Itu artinya jika dikonversikan dalam satuan kilogram maka besaran masa hasil pertanian yang diwajibkan untuk mengeluarkan zakat adalah 720 kg. Dengan begitu maka kemudian Anda akan mendapatkan patokan yang jelas dalam nishab yang dibutuhkan dalam zakat hasil pertanian adalah 720 kg.

Untuk itulah maka penting bagi kita untuk menggunakan ketetapan tersebut dalam upaya untuk mengeluarkan zakat dari hasil pertanian yang memang seharusnya diperhatikan.

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya dalam panduan pengeluaran zakat pertanian sendiri ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Seperti yang sudah ditetapkan bahwa jika Anda memperoleh hasil pertanian yang beratnya mencapai atau melampaui 1 ton maka ada kewajiban yang diperlukan.

Sebab pada dasarnya Anda perlu untuk mengeluarkan zakat karena adanya berat hasil pertanian yang telah melampaui 1 ton tentunya. Dengan begitu maka dapat dikatakan bahwa pada dasarnya itu menjadi patokan bagi Anda untuk mengeluarkan zakat.

Jika kita menghitung persen yang diperlukan dalam mengeluarkan zakat dari hasil pertanian yang melebihi satu ton maka ada beberapa perbedaan.

Apabila Anda mengairi tanaman tersebut dengan air hujan maka tentunya perlu untuk dikeluarkan zakat sebanyak 10 persen. Itu akan berbeda apabila nantinya Anda melakukan pengelolaan pertanian dengan pengairan yang pada dasarnya dibutuhkan biaya untuk melakukannya.

Dimana besaran zakat yang perlu dikeluarkan dari adanya pengelolaan pertanian yang membutuhkan biaya bagi pengairan yang dilakukan maka dikenakan 5%. Tentunya keduanya memiliki tingkatan pengeluaran zakat yang berbeda satu dengan yang lainnya karena jumlah hasil yang didapatkannya pun berbeda.

Penjelasan tersebut tentunya dapat dibenarkan dengan adanya hadist yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda;

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ ، وَمَا سُقِىَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ

“Tanaman yang diairi dengan air hujan atau dengan mata air atau dengan air tada hujan, maka dikenai zakat 1/10 (10%). Sedangkan tanaman yang diairi dengan mengeluarkan biaya, maka dikenai zakat 1/20 (5%).”

Cara Menghitung Zakat Pertanian

Pada dasarnya dalam perhitungan pengeluaran zakat pertanian yang perlu dilakukan dibutuhkannya cara yang berbeda.

Dan ada dua hal yang membedakan tingkatan pengeluaran zakat yang perlu dilakukan oleh seorang petani yang mendapatkan hasil pertaniannya. Tentunya bagi tanaman yang tidak membutuhkan air misalnya dialiri dari sungai dan tidak memerlukan biaya maka dikenakan zakat sebesar 10%.

Patokan tersebut tentunya menjadi sebuah hal yang penting dipahami oleh setiap orang yang akan melakukan zakat dalam kaitannya dengan bidang pertanian. Dengan begitu maka nantinya Anda tidak akan salah dalam mengeluarkan zakat yang pada dasarnya perlu dikeluarkan dari hasil pertanian yang dilakukan tentunya.

Perlu Anda ketahui bahwa pada dasarnya apabila nantinya tanaman yang dihasilkan masih membutuhkan air dan memerlukan biaya untuk pengairan maka takarannya berbeda.

Tentunya seperti yang kita ketahui bersama bahwa pada dasarnya bagi pertanian yang dilakukan dengan bantuan air yang membutuhkan biaya maka ada persen yang berbeda. Dimana pada dasarnya dalam setiap hasil tanam yang dihasilkan dengan biaya pengairan yang dibutuhkan maka tentunya zakat yang perlu dikeluarkan adalah 5%.

Dengan begitu maka penting bagi kita untuk dapat memperhatikan terkait dengan persenan yang perlu dikeluarkan dalam zakat yang harus dibayarkan. Sehingga kemudian Anda akan bisa menunaikan kewajibanmu melaksanakan pengeluaran zakat dalam bidang pertanian dengan tepat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Itu akan berbeda dengan zakat pertanian yang perlu dikeluarkan jika Anda melakukan pengairan dengan sebagian menggunakan air hujan dan sebagiannya lagi membutuhkan biaya.

Perlu diketahui bahwa pada dasarnya jika sawah yang dimiliki melakukan hal tersebut maka tentunya ada pertimbangan zakat yang diperlukan. Dimana pada dasarnya besaran zakat yang perlu dikeluarkan adalah 3/4×1/10 yang artinya sama dengan 7,5% dari hasil yang didapatkan.

Tentunya penting bagi Anda sekarang ini agar dapat melakukan pengeluaran zakat dengan sangat berhati hati dan pastinya dengan ketentuan yang berlaku.

Dengan begitu maka penting bagi Anda untuk dapat melakukan penimbangan atas pengeluaran zakat dari bidang pertanian yang harusnya dikeluarkan. Jika menghitung tentang panen sebuah tanaman yang diairi dengan mengeluarkan biaya sebesar 1 ton maka tentunya zakatnya harus 10%.

Dengan begitu maka dapat dikatakan bahwa dalam setiap tonnya Anda perlu mengeluarkan zakat sebanyak 100 kg dari hasil panen yang didapatkan tentunya. Perlu Anda ketahui bahwa pada dasarnya dibutuhkan adanya pemahaman yang tepat mengenai cara yang tepat dalam mengeluarkan zakat pada hasil pertanian yang didapatkan.

Zakat pertanian yang perlu dikeluarkan pada dasarnya perlu dilakukan tanpa harus menunggu haul dalam setiap kewajiban melakukan hal tersebut. Dan perlu Anda ketahui bahwa pada dasarnya dalam setiap kali panen yang Anda dapatkan akan ada kewajiban yang perlu dilakukan untuk menunaikan zakat tentunya.

Pada dasarnya kewajiban untuk menunaikan zakat sendiri perlu dilakukan jika tanaman sudah mulai mengeras atau bisa dikatakan buahnya sudah matang. Itu juga berlaku pada adanya tanaman berupa kurma dan juga anggur yang pada dasarnya juga perlu dikeluarkan zakatnya jika sudah matang atau siap dipanen.

Sebelum sampai masa panen maka kewajiban untuk menunaikan zakat dalam bidang pertanian sendiri tidak diberlakukan.

Rasulullah SAW bersabda;

عَنْ عَتَّابِ بْنِ أَسِيدٍ قَالَ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُخْرَصَ الْعِنَبُ كَمَا يُخْرَصُ النَّخْلُ وَتُؤْخَذُ زَكَاتُهُ زَبِيبًا كَمَا تُؤْخَذُ زَكَاةُ النَّخْلِ تَمْرًا

Dari ‘Attab bin Asid, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menaksir anggur sebagaimana menaksir kurma. Zakatnya diambil ketika telah menjadi anggur kering (kismis) sebagaimana zakat kurma diambil setelah menjadi kering.”

Dari penjelasan di atas maka dapat dikatakan bahwa pada dasarnya dari hadist tersebut dapat diketahui bahwa terdapat ketentuan dalam pemberian zakat pertanian. Dimana pada dasarnya zakat pertanian yang perlu dikeluarkan terlebih dahulu dilakukan penaksiran atasnya.

Dalam hal ini tentu Anda perlu untuk menaksir dengan tepat jumlah hasil panen yang didapatkannya dari tanaman yang telah dihasilkan tersebut. Dimana pada dasarnya sebuah zakat bisa diambil ketika sudah menjadi bahan yang siap dijadikan sebagai bahan makanan pokok.

Seperti misalnya jika Anda mendapatkan hasil panen padi sebanyak 2 ton maka zakat sebanyak 2 kwintal hanya bisa dikeluarkan jika padinya sudah kering.

Tentunya dalam zakat pertanian sendiri ada beberapa hal yang memang pada dasarnya penting untuk diperhatikan. Mungkin itu saja yang bisa disampaikan berkaitan dengan ketentuan dalam zakat dari hasil pertanian yang dimiliki dan semoga bermanfaat.

FAQ

Zakat pertanian disebut juga zakat mall

Zakat pertanian dikeluarkan pada saat setiap kali panen dan telah sampai nisab, tanpa menunggu haul.

Zakat pertanian yang menggunakan irigasi adalah jumlah dari zakat yang harus dikeluarkan sebesar 5 persen

Nisab zakat pertanian apabila diairi dengan irigasi adalah sebesar 5 wasaq= 653 kg beras

Zakat pertanian yang pengelolaannya menggunakan biaya, jumlah zakat yang harus dikeluarkan 5 persen

Kadar zakat yang harus dikeluarkan dalam zakat pertanian adalah 10% jika apabila diairi dengan air hujan, atau sungai/mata/air, apabila diairi dengan cara disiram/irigasi (ada biaya tambahan) maka zakatnya 5%

Zakat pertanian yang airnya gratis yaitu dikenakan zakatnya 10%

Zakat pertanian jika airnya dari sungai tanpa beli jika panen zakatnya berapa persen? Adalah 10%

Zakat pertanian yang sawahnya diairi dengan mesin pompa air zakatnya sebesar 5%

Leave a Comment